Jumat, 02 Agustus 2019

Pembodohan Berujung Radikalisme



Assalamu`alaikum Wr.Wb,
Temen-temen, selamat membaca untuk kalian, semoga dari apa yang admin share dapat menambah wawasan kalian tentang sejarah.
Agama dapat dipandang obyektifnya adalah  “idea atau kumpulan idea” yang mungkin diperoleh secara intuitif. . Oleh para pengikutnya dipercaya sakral diturunkan dengan wahyu dari Tuhan. ayat-ayat Al Quran diturunkan secara berturut-turut dalam suatu kurun waktu. 
Kita berpikir dengan atau melalui ide, dan apa yang disebut ‘berpikir’ adalah penerapan ide yang telah kita miliki pada situasi tertentu, Tetapi  alasan sakralitas agama banyak mengalahkan logika akal sehat. Semacam fanatisme atau membela agama. Cara kita menghayati dan menafsirkan dunia itu sangat tergantung pada jenis ide yang memenuhi otak kita. Jika ide-ide itu kecil, lemah, dangkal, dan terpecah-pecah, hidup ini akan menjadi picik dan serba kacau, cenderung lari kepada mitos dan dogma.
Sebelum Memebahas soal radikalisme dan pembodohan mari kita masuk ke pengertian radikalisme. Sebenarnya, apa arti radikalisme? Menurut para ahli, Pengertian Radikalisme adalah suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ ekstrim.


Inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.

Radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka. Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran Agama.

Pada dasarnya radikalisme sudah ada sejak jaman dahulu karena sudah ada di dalam diri manusia. Namun, istilah “Radikal” dikenal pertamakali setelah Charles James Fox memaparkan tentang paham tersebut pada tahun 1797. Saat itu, Charles James Fox menyerukan “Reformasi Radikal” dalam sistem pemerintahan di Britania Raya (Inggris). Reformasi tersebut dipakai untuk menjelaskan pergerakan yang mendukung revolusi parlemen di negara tersebut. Pada akhirnya ideologi radikalisme tersebut mulai berkembang dan kemudian berbaur dengan ideologi liberalisme.

Seperti yang disebutkan pada pengertian radikalisme di atas, radikalisme seringkali dikaitkan dengan agama tertentu, khususnya Islam. Hal ini dapat kita lihat dari adanya kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang melakukan teror terhadap beberapa negara di dunia dengan membawa/ menyebutkan simbol-simbol agama Islam dalam setiap aksi teror mereka. Tindakan ISIS dan dukungan dari sebagian kecil umat Islam terhadap ISIS pada akhirnya membuat sebagian masyarakat dunia menganggap ISIS merupakan gambaran dari ajaran Islam. Namun, tentu saja hal tersebut tidak benar adanya karena sebagian besar umat Islam justru mengutuk tindakan keji yang dilakukan oleh ISIS. Radikalisme sangat mudah kita kenali. Hal tersebut karena memang pada umumnya penganut ideologi ini ingin dikenal/ terkenal dan ingin mendapat dukungan lebih banyak orang. Itulah sebabnya radikalisme selalu menggunakan cara-cara yang ekstrim.

Beberapa contoh atau ciri-ciri radikalisme:
1.    Radikalisme adalah tanggapan pada kondisi yang sedang terjadi, tanggapan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk evaluasi, penolakan, bahkan perlawanan dengan keras.
2.    Melakukan upaya penolakan secara terus-menerus dan menuntut perubahan drastis yang diinginkan terjadi.
3.    Orang-orang yang menganut paham radikalisme biasanya memiliki keyakinan yang kuat terhadap program yang ingin mereka jalankan.
4.    Penganut radikalisme tidak segan-segan menggunakan cara kekerasan dalam mewujudkan keinginan mereka.
5.    Penganut radikalisme memiliki anggapan bahwa semua pihak yang berbeda pandangan dengannya adalah bersalah.
Dari bahasan diatas sedikit kita simpulkan bahwa, rata-rata tindakan radikal karena factor pembodohan yang tersetruktur, dengan mengutamakan segelintir kelompok.
Mari kita perkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia  Dengan cara memperkuat idealisme, nasionalisme, dan kecintaan kita terhadap negara serta menerapkan rasa tanggung jawab kita untuk melawan segenap ancaman terhadap eksistensi NKRI yang kita cintai ini,’’

Tidak ada komentar: